Flickr Jakarta ketemuan di kota tua.. Naik sepeda, potret bareng dan nonton kuda lumping
sepeda gembira
Posted in Uncategorized
Playing Hands
A small detail of every day life..
a simple movement we do most every time
may signify our life
as a moment of truth
Posted in Uncategorized
Canon atau Nikon
Color yang lebih vibrant merupakan ciri khas dari Nikon dibandingkan Canon. Dengan Canon hasilnya gak akan seperti ini, harus dipush dengan software.
Sekarang ini, tertarik sekali dengan Nikon full frame D700. Kualitas full frame dengan harga dibawah D3 yang fenomenal.
Saatnya Canon mulai pikir-pikir lebih strategik untuk segmentasi dan pricing policy…
Yah kita tunggu aja..
Posted in Uncategorized
Kasih Ibu
Suadara tua kita punya naluri sama untuk mencintai dan melindungi anaknya. Bedanya adalah mereka melakukannya tanpa kata dan omelan…
So, siapa yang lebih baik, kita atau mereka?
Posted in Uncategorized
Dunia Tidak Sedaun Kelor
“Dunia tidak sedaun kelor”. Frasa jadul ini sekarang sudah hampir tidak terdengar lagi diucapkan dalam pergaulan sehari-hari, padahal jaman saya masih bersekolah frasa dengan empat kata itu adalah hal umum yang diucapkan, termasuk pada koran dan media.
Kenapa frasa itu gak jarang sekali dipakai dalam pembicaraan saat ini, pasti bukan sekedar karena kebanyakan dari kita saat ini gak tahu seperti apa mahluk yang disebut daun kelor itu, atau karena kebanyakan diri kita sudah sedemikian maju sehingga kita tahu pasti bahwa dunia gak mungkin seluas daun kelor.Sebagai bangsa, kita sedang berubah dan terus berubah. Sebagian ke arah yang lebih baik dari sebelumnya. Tapi dalam banyak hal perubahan itu menjadi sebuah langkah mundur untuk ukuran sebuah bangsa besar seperti kita. Salah satu perubahan paling besar, adalah perubahan sistem nilai, yang menjadi dasar cara pandang kita dalam menghadap persoalan bangsa ini.
“Dunia tidak sedaun kelor”, secara bijak dan filosifis mengingatkan kita untuk tidak memandang sebuah persoalan dalam sudt pandang sempit.Frasa tersebut adalah sebuah mantera jitu untuk kita jadikan sebuah tarikan napas pada saat kita tersesak sebuah persoalan. Untuk istilah yang lebih kontemporer, frasa tersebut bisa kita andaikan sebagai bentuk awal dari NLP (neuro linguistic programing) warisan dari orang tua kita. Sayang, kita tidak lagi akrab dengan kata-kata bertuah tersebut.
Masih banyak “mantera-mantera” warisan yang kita punya dan sekarang sudah menjadi barang langka, atau jadi sekedar hapalan anak-anak Sekolah Dasar. Sementara itu kita lebih percaya kepada “produk-produk” import seperti NLP, neuro semantik dll. Itulah, satu perubahan besar yang menjadikan kita sebagai bangsa menjadi makin mundur, setidaknya kehilangan identitas.
Kita ribut besar ketika lagu-lagu, batik dan berbagai warisan budaya kita diakui oleh saudara serumpun. Dan dengan semangat tinggi, kita serta merta ikutan marah sampai muncul sentimen anti saudara kita itu.Tapi, pernahkan kita berpikir?Kita sendiri tidak pernah menghargai apa yang saat ini kita punya. Dunia tidak sedau kelor, Bok! Kalau kita gak jaga apa yang kita punya, lalu orang lain nyerobot dan mengakui sebagai hak milik, pertama-tama kita harus teliti dulu apa kita jaga apa yang kita punya?
Lewat tengah malam

Lewat tengah malam,
kupandangi langit-langit
tak ada suara
hanya desah napasmu teratur
di sisi ujung sana tempat tidur kita
…malam ini
lewat tengah malam,
detik jam berlalu tanpa suara
asa yang tak kunjung datang diundang
rindu tak hendak diretas
…
tak ada suara
hanya desah napas teratur di ujung sana
… tak ada suara
lewat tengah malam
matamu tetap terpejam,
mimpi yang membawamu hanyut
…jauh di seberang sana
di sisi lain tempat tidur kita
lewat tengah malam
kudengar hatiku bertanya
inikah cinta
setidaknya dalam mimpimu ?
Bandung, November 2007 .. dan malam-malam lain bersama mu.
Liburan ke Bali? Kenapa ke Bali?
Sudah pasti Bali jadi salah satu tempat yang ada di peringkat atas kalau kita siap-siap liburan. Untuk yang belum pernah ke Bali, liburan ke sana bisa jadi impian, “nanti kalau ada waktu dan uang…”
Untuk yang sudah pernah, gak kurang juga yang masih mau dan mau lagi ke Bali.
Apa yang bikin bali segitu menariknya? Kuta, Tanah Lot, Uluwatu? Joger? Sunset di pantai?
Dari segitu banyak tempat di Indonesia yang cukup menarik Bali masih jadi peringkat atas di peta kunjungan wisata, lokal ataupun manca negara.
Saya senang ke Bali, banget! Meskipun sudah beberapa kali ke sana, kalau ada kesempatan saya dengan senang hati akan kembali (ke Mbali, kata pembantu saya dengan logat Jawa).
- Variasi wisata yang banyak. Bali seperti one-stop-shoping untuk kunjungan wisata, dari soal pantai, gunung, danau ada. Wisata budaya ada. Wisata hura-hura, ada banget. In short, lengkap deh.
- Akses yang mudah. Mau pergi ke bagian mana saja dari Bali
- Obyek photo, buanyak buanget.
So, saya akan kembali ke Mbali, pasti.










